Search This Blog

Powered by Blogger.

LAPORAN ASKEB HIPERTENSI MENOPAUSE



LAPORAN INDIVIDU
PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA Tn.”M”
PADA IBU MENOPAUSE DENGAN HIPERTENSI DI DUSUN
DASAN CERMEN DESA AIK DAREK KEC. BATUKLIANG
TANGGAL 21 NOVEMBER 2016



                                                    DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... ii
KATA PENGANTAR............................................................................................. iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iv
BAB 1  PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1    Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2    Tujuan.................................................................................................... 4
1.3    Manfaat................................................................................................. 5
BAB 2  TINJAUAN TEORI................................................................................... 6
2.1    Konsep Dasar Kebidanan Komunitas .................................................. 6
2.2    Konsep Dasar Keluarga ....................................................................... 7
2.3    Konsep Dasar Teori Menopause............................................................ 9
2.4    Konsep Dasar Teori Hipertensi........................................................... 18
BAB 3 TINJAUAN KASUS................................................................................ 24
I.         Pengkajian .......................................................................................... 24
II.      Analisa Data........................................................................................ 29
III.   Perencanaan........................................................................................ 30
IV.   Pelaksanaan ........................................................................................ 30
V.      Evaluasi............................................................................................... 31
BAB 4 PEMBAHASAN....................................................................................... 32
BAB 5 PENUTUP................................................................................................. 33
5.1    Kesimpulan......................................................................................... 33
5.2    Saran .................................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN





BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Menurut data dari WHO (World Health Organization), tampaknya ledakan menopause pada tahun-tahun mendatang sulit sekali dibendung. WHO memperkirakan ditahun 2030 nanti ada 1,2 miliar wanita yang berusia di atas 50 tahun. Sebagian besar dari mereka (sekitar 80 persen) tinggal dinegara berkembang. Dan setiap tahunnya populasi wanita menopause meningkat sekitar tiga persen. Perkiraan kasar menunjukan akan terdapat sekitar 30-40 juta kaum wanita usia lanjut (wulan) dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 240-250 juta. Dalam kategori wulan tersebut (usia lebih dari 60 tahun), hampir 100 persen telah mengalami menopause dengan segala akibat serta dampak yang menyertainya (Proverawati, 2009).
Data BPS (proyeksi penduduk 2008), 5.320.000 wanita Indonesia memasuki masa menopause setiap tahun. 68 persen mengalami gejala klimakterik, 62 persen menghiraukan gejala-gejala menopause, 15 persen peduli dengan terapi sulih hormon (TSH), 1 persen yang menggunakan TSH, 47 persen mengerti kaitan gejala awal menopause dengan peningkatan tekanan darah, 2 persen mengetahui TSH bisa mengurangi resiko tekanan darah. Begitu juga untuk Propinsi JawaTengah, jumlah wanita menopause meningkat setiap tahun. Menurut data sensus tahun 2007, tercatat 16.540.126 penduduk wanita Jawa Tengah, 50,26 persen dari total penduduk Indonesia yaitu 32.908.850 (Baziad, 2008).
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Tujuan tersebut diciptakan untuk mewujudkan visi Indonesia Sehat 2010, yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia, melalui penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau layanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah, dan swasta. Peran pemeritah dalam bidang kesehatan tidak akan berarti apabila tanpa disertai kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatannya (Depkes RI, 2005).
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan rakyat pada umumnya, sehingga diperlukan upaya dalam memperluas dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mutu yang lebih baik dan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.
Pembangunan sektor kesehatan terutama pelayanan kesehatan hendaknya mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan tanpa mengabaikan pengobatan dan pemulihan kesehatan agar dapat terwujud masyarakat yang sehat, sehingga pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya sebagai hakikat pembangunan nasioanal dapat tercapai. Sudah menjadi hukum alam, bahwa setiap manusia pasti akan menjadi tua. Sejak manusia dilahirkan, telah berlangsung proses penuaan yang terjadi terus menerus sepanjang hidupnya. Fase kehidupan seorang perempuan secara kontinyu mulai dari lahir sampai akhir hayatnya akan melalui beberapa fase yaitu fase neonatus, bayi, kanak-kanak, pubertas, masa reproduksi, masa klimakterium, (pramenopause-perimenopause-menopause-pasca menopause), prasenium, berakhir dengan senium. UHH (Usia Harapan Hidup) akan terus meningkat seiring dengan perbaikan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang, dengan demikian akan semakin banyak didapatkan perempuan berusia lanjut yang dapat menikmati kehidupan setelah menopause atau setelah masa reproduksi selesai. Secara biologis telah ditetapkan, bahwa perempuan yang hidup sampai usia 45-55 tahun akan mengalami menopause (Universitas Sriwijaya, 2010).
Usia harapan hidup perempuan Indonesia yang semakin panjang membuat menopause yang semula tidak banyak diperkirakan menjadi hal yang penting. Sebelum menopause wanita akan mengalami klimakterium, merupakan salah satu fase perkembangan fungsi seksual yang disebabkan oleh turunnya fungsi ovarium (sel telur) yang mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang didalam tubuh. Keluhan seperti berdebar-debar, migrain, insomnia, nyeri otot, nyeri pinggang, mudah tersinggung. Keluhan psikiatrik dan neurotik seperti merasa tertekan, lelah psikis, dan somatik, susah tidur, merasa ketakutan, konflik keluarga dan gangguan ditempat kerja. Keluhan lainnya yang berhubungan dengan alat reproduksi dan gangguan degenerasi seperti sakit waktu bersetubuh, gangguan haid, keputihan, gatal pada vagina, susah kencing, libido menurun, keropos tulang (osteoporosis), gangguan sirkulasi, kekeringan vagina, kenaikan kadar gula, kegemukan gangguan metabolisme (adepositas) (Ade Oeswatun, 2007).
Dukungan suami ditemukan sebagai faktor eksternal paling ampuh dalam membantu wanita untuk melalui masa menopause tanpa kecemasan berlebih. Suami yang tidak menuntut wanita untuk tampil dengan kesempurnaan fisik dan menyakinkan pasangannya mengenai hal ini, baik dalam perkataan maupun tindakan, akan sangat membantu perempuan untuk menyakini bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan ketika menopause tiba. Hal ini menunjukan bahwa tuntutan lingkunganlah dan bukan menopause itu sendiri yang menyebabkan perempuan cemas.
Dukungan suami memang penting dalam membantu perempuan menjalani masa menopause, namun faktor internal dari dalam perempuan itu sendiri mutlak harus dimiliki. Karena seperti apapun suami memahami dan mendukung, akan sia-sia saja jika perempuan terus berkutat dengan pemikiran-pemikiran negatif mengenai perubahan fisik dan seksual yang mereka alami. Bukan tidak mungkin jika suami pun akan bingung dan kesal karena kehabisan cara untuk menenangkan istri yang sedang cemas (Lianawati, 2008).
Berdasarkan keterangan diatas terlihat bahwa menopause adalah masalah alamiah yang harus dilalui oleh semua wanita pada waktunya.Dalam zaman emansipasi saat ini, banyak wanita karier yang mencapai puncak karirnya pada usia diatas 40 tahun, sedangkan pada usia tersebut sebagian wanita mulai dengan keluhan-keluhan pramenopause. Masalah kesehatan reproduksi wanita merupakan masalah bersama maka diperlukan pemahaman dan pengertian yang baik untuk dapat membantu mengatasi perubahan perilaku yang disebabkan karena perubahan fungsi, secara optimal melalui komunikasi dan layanan informasi reproduksi. Kelainan bentuk perilaku kesehatan reproduksi wanita usia klimakterium terutama manifest atau timbul pada masa menjelang menopause dengan berbagai permasalahan baik secara fisik maupun psikis (Kasdu, 2002).
Wanita dalam masa klimakteria memerlukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) dari petugas kesehatan untuk pemeliharaan kesehatan dan menjamin kualitas hidupnya. Melalui pendidikan kesehatan diatas diharapkan wanita dapat terhindar dari konsep yang salah tentang menopause, sehingga hidupnya akan lebih bermanfaat dalam menghadapi pasca menopause. Pengetahuan tentang klimakteria dapat diperoleh dari proses pendidikan formal atau nonformal melalui media elektronik, surat kabar, dan sumber pengetahuan lainnya. Kurangnya pengungkapan keluhan-keluhan manifestasi klinis pada masa klimakteria memperlihatkan bahwa sebagian besar wanita menanggapi keluhan dan gangguan klimakteria sebagai proses menua atau penyakit lainnya (Siagian, 2003).

1.2    Tujuan
1.2.1   Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memberikan Asuhan Kebidanan Komunitas pada keluarga Tn. Mpada Ibu Menopause dengan Hipertensi di Dusun Dasan Cermen Desa Aik Darek Kec. Batukliang.
1.2.2   Tujuan khusus
1.         Mahasiswa mampu melakukan Pengkajian Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Tn. Mpada Ibu Menopause dengan Hipertensi.
2.         Mahasiswa mampu menganalisa masalah pada Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Tn. Mpada Ibu Menopause dengan Hipertensi
3.         Mahasiswa mampu menyusun rencana Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Tn. Mpada Ibu Menopause dengan Hipertensi
4.         Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan segera pada Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Tn. Mpada Ibu Menopause dengan Hipertensi
5.         Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan yang telah dilaksanakan pada Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Tn. Mpada Ibu Menopause dengan Hipertensi

1.3    Manfaat
1.3.1        Untuk mahasiswa
Sebagai sarana untuk melatih kemampuan dan keterampilan dasar dalam melakukan asuhan kebidanan komunitas dengan gejala menopause.
1.3.2        Untuk Masyarakat
Dengan adanya penulisan ini diharapkan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya menjaga dan memahami pentingnya gejala menopause
1.3.3        Untuk Petugas Kesehatan/Lahan
Sebagai sarana untuk lebih melatih dan mengasah kemampuan mahasiswa dalam memberikan asuhan komunitas gejala menopause.
1.3.4        Untuk Instansi Pendidikan
Sebagai sarana untuk mendidik mahasiswa khususnya mahasiswa Sekolah Tinggi Kesehatan Yayasan Rumah Sakit Islam Mataram agar lebih terampil dan cekatan dalam memberikan penyuluhan dan penanganan terhadap gejala.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Dasar Kebidanan Komunitas
2.1.1        Pengertian
Kebidanan komunitas adalah seorang yang tetah meingikuti pendidikan kebidanan yang telah diakui oleh pemerintah setempat yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus, serta terdaftar/ mendapat izin melakukan praktek kebidanan yang melayani keluarga atau masyarakat di wilayah tertentu (Marmi, 2011).
Kebidanan komunias adalah upaya memberi asuhan kebidanan pada masyarakat baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang terfokus pada petayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencatra (KB), kesehatan reproduksi termasuk usia adiyuswa secara paripurna (Meilani, dkk, 2009).
Pelayanan kebidanan komunitas adalah upaya yang dilakukan bidan untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan ibu dan anak balita di dalam keluarga dan masyarakat (Rismiantari dan Ambarwati, 2011).
2.1.2        Sasaran Pelayanan Kebidanan Komunitas
Menurut Meilani, dkk (2009) sasaran pelayanan kebidanan komunitas adalah komunitas, di dalam komunitas terdapat kumpulan individu yang membentuk keluarga atau kelompok dalam suatu masyarakat. Sasaran utama pelayanan kebidanan komunitas adalah ibu dan anak dalamkeluarga.
1.      Ibu
calon ibu/ masa pranikah ibu hamil, ibu bersaliru ibu nifas, ibu meneteki, ibu masa interval, menopouse.
2.      Anak
Bayi, balita, masa sekolah.
3.      Keluarga berencana
Nuclear family (suami, istri, anak), extended family (keluarga besarkakek, nenek, dll).
4.      Masyarakat
Masyarakat desa, kelurahan dalam batas wewenang kerja.
2.1.3        Kegiatan pelayanan kebidanan komunitas yang dilakukan oleh Bidan
Menurut Rismiantari dan Ambarwati (2011) kegiatan pelayanan kebidanan komunitas yang dilakukan oleh bidan meliputi :   
1.        Penyuluhan kesehatan.
2.        Pemeliharaan kesehatan ibu dan balita.
3.        Konsep keluarga berencana.
4.        Imunisasi, gizi, keluarga berencana.
5.        Memberikan pelayanan kesehatan ibu di rumah.
6.        Membina dan membimbing kader dan dukun bayi.
7.        Menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan.
8.        Membina kerja sama lintas program dan lintas sektoral.
9.        Melakukan rujukan medik.
10.    Mendeteksi secara dini adanya efek samping dan komplikasi pemakaian kontrasepsi.

2.2    Konsep Dasar Keluarga
2.2.1.      Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam satu rumah tangga karena pertalian darah atau ikatan perkawinan atau adopsi, satu dengan yang lainnya saling bergantung dan berinteraksi. Bila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatn/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga yang lain dan keluarga-keluarga yang ada disekitarnya.
2.2.2.      Bentuk tipe keluarga
1.      Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ibu dan anak.
2.      Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misal : kakek, nenek, keponakan, saudara sepupu, paman dan bibi.
3.      Keluarga berantai (serial family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4.      Keluarga duda/janda (composite) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
5.      Keluarga cabitas (cabitation)
2.2.3.      Pemegang kekuasaan dalam keluarga
Pemegang kekuasaan dalam keluarga :
1.      Partikel yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah.
2.      Martikal yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.
3.      Equalitarian yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah dan ibu.
2.2.4.      Peran keluarga
Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, bersifat kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Perananan dalam keluarga adalah :
1.      Peranan ayah
Sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak, pencari nafkah, pendidik, pelindung, kepala keluarga, anggota dari kelompok sosialnya, anggota masyarakat dari lingkungan.
2.      Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anak, mengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik, pelindung dan salah satu kelompok dan peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan, pncari nafkah tambahan dalam keluarga.
3.      Peranan anak
Melaksanakan peranan psikososial sesuai tingkat perkembangan baik fisik, mental maupun spiritual.
2.2.5.      Fungsi keluarga
1.      Fungsi biologis
Untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, memelihara dan merawat anggota keluarga.
2.      Fungsi psikologis
a.       Memberi kasih sayang dan rasa aman
b.      Memberikan kasih sayang diantara anggota keluarga.
3.      Fungsi sosial
a.       Membina sosialisasi pada anak
b.      Membentuk norma, tingkah laku sesuai tingkat perkembangan anak.
4.      Fungsi ekonomi
a.       Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
b.      Mencari sumber penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
c.       Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang akan datang.
5.      Fungsi pendidikan
a.       Menyekolahkan anak untuk membekali pendidikan, keterampilan dan membentuk perilaku sesuai bakat dan minat yang dimilikinya.
b.      Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
c.       Mendidik anak sesuai tingkat perkembangannya (Pinem, 2009).

2.3    Konsep Dasar Menopause
2.4.1        Pengertian Menopause
Menopause adalah perdarahan haid yang terakhir yang terjadi pada usia 40 – 65 tahun. Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogenpun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya menopause. Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti yang terdiri dari kata men dan pauseis yang berasal dari bahasa Yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid. Ini merupakan suatu akhir proses biologis dari siklus menstruasi yang terjadi karena penurunan produksi hormon estrogen yang dihasilkan ovarium (indung telur). Menopause mulai pada umur yang berbeda umumnya adalah sekitar umur 50 tahun, meskipun ada sedikit wanita memulai menopause pada umur 30-an (Sarwono P, 2008).
Produksi hormon estrogen menurun disebabkan oleh folikel indung telur (kantong indung telur) akan mengalami tingkat kerusakan yang lebih cepat sehingga pasokan folikel akhirnya habis. Percepatan kerusakan folikel ini terjadi pada usia 37 dan 38 tahun. Inhibin (suatu zat yang dihasilkan volikel) yang berkurang sehingga meningkatkan kadar FSH (Folokel Stimulating Hormon) yang dihasilkan oleh hipofisis. Kadar estrogen perempuan akan meningkat pada masa pra menopause.
Kadar tersebut tidak berkurang selama kurang dari satu tahun sebelum periode menstruasi berakhir. Estrogen utama yang dihasilkan dalam tubuh wanita adalah estradiol. Namun selama pra menopause, estrogen yang dihasilkan lebih banyak dari jenis berbeda yaitu estrogen yang dihasilkan didalam indung telur maupun dalam lemak tubuh. Kadar progesteron mulai menurun tajam selama pra menopause.
Meskipun tujuan reproduksi tidak lagi menjadi hal utama di usia ini, peran hormon-hormon tersebut yang berkaitan dengan kesehatan tetap diperlukan. Estrogen dan androgen tetap penting, misalnya untuk mempertahankan tulang yang kuat dan sehat. Selain itu juga bermanfaat untuk mempertahankan jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Baik estrogen maupun progesteron sama-sama penting untuk mempertahankan lapisan kalogen yang sehat pada kulit.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa menopause merupakan suatu masa ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen yang mengakibatkan haid tidak muncul lagi. Hal ini dapat diartikan sebagai berhentinya kesuburan (Wiknjosastro, Hanifa. 2005).
2.4.2        Periode Menopause
Menurut Sinclair, Constance. (2010) ada tiga periode menopause, yaitu:
1.      Klimaterium
Periode klimakterium merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pra menopause, antara usia 40 tahun, ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang dan relatif banyak.
2.      Menopause
Masa menopause yaitu saat haid terakhir atau berhentinya menstruasi, dan bila sesudah menopause disebut paska menopause bila telah mengalami menopause 12 bulan sampai menuju ke senium umumnya terjadi pada usia 50-an tahun.
3.      Senium
Periode paska menopause, yaitu ketika individu telah mampu menyesuaikan dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik antara usia 65 tahun. Beberapa wanita juga mengalami berbagai gejala karena perubahan keseimbangan hormon. Bagian- bagian tubuh dapat mulai menua dengan jelas, tetapi kebanyakan wanita seharusnya tetap aktif secara fisik, mental, dan seksual sesudah menopause seperti sebelumnya. Menopause mulai pada umur yang berbeda pada orang-orang yang berbeda umur yang umum adalah sekitar 50 tahun, meskipun ada sedikit wanita memulai menopause pada umur 30-an, sementara wanita-wanita lain mulainya menopause tertunda sampai umur 50-an.
2.4.3        Tahap-tahap dalam Menopause
Menurut Sinclair, Constance. (2010), menopause di bagi dalam beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:
1.      Pra Menopause
 Fase antara usia 40 tahun dan dimulainya fase klimakterium. Gejala-gejala yang timbul pada fase pra menopause antara lain siklus haid yang tidak teratur, perdarahan haid yang memanjang, jumlah darah yang banyak, serta nyeri haid.
2.      Peri Menopause
Fase peralihan antara masa pra menopause dan masa menopause. Gejala-gejala yang timbul pada fase peri menopause antara lain siklus haid yang tidak teratur, dan siklus haid yang panjang.
3.      Menopause
 Haid dialami terakhir akibat menurunnya fungsi estrogen dalam tubuh. Menurut Luciana (2005), keluhan-keluhan yang timbul pada menopause antara lain keringat malam hari, mudah marah, sulit tidur, siklus haid tidak teratur, gangguan fungsi seksual, kekeringan vagina, perubahan pada indera perasa, gelisah, rasa khawatir, sulit konsentrasi, mudah lupa, sering tidak dapat menahan kencing, nyeri otot sendi, serta depresi.
2.4.4        Perubahan pada masa menopause
Perubahan bahan pada masa menopause adalah perubahan-perubahan yang bersifat drastis. Perubahan pada masa menopause itu menyangkut perubahan organ reproduksi, perubahan hormon, perubahan fisik, maupun perubahan psikologis. Seorang yang berada pada masa menopause, harus siap menjalani masa ini, karena masa menopause adalah masa peralihan, yang biasanya seseorang mengalami masalah pada masa transisi ini.





Selengkapnya Download disini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment